Pages

Senin, 31 Januari 2011

Makin Matang, Djokovic Mau Lebih Lagi

Melbourne - Setelah menanti tiga tahun, Novak Djokovic meraih gelar Grand Slamnya yang kedua. Mengaku lebih matang dan jauh berpengalaman, dia punya punya keinginan mengusik dominasi Rafael Nadal dan Roger Federer.

Djokovic meraih gelar keduanya di seri Grand Slam sekaligus Australia Terbuka usai mengandaskan Andy Murray tiga set langsung. Ini adalah kemenangan keduanya di Melbourne Park setelah yang pertama tahun 2008 lalu.

Meski ini bukan kesempatan pertama jadi kampiun, petenis asal Serbia itu mengaku tetap merasa takjub dengan sukses yang diraih. Apalagi di final dia bisa menang dengan relatif mudah atas Murray, setelah di semifinal mengandaskan Roger Federer.

"Saya hidup di dalam mimpi para pemain tenis, itu pasti. Untuk bisa menang straight set atas pemain seperti Andy Murray di final Grand Slam itu membuat sukses saya terasa makin besar," sahut Djokovic usai pertandingan.

Dengan usia yang baru 23 tahun, peluang Djokovic meraih lebih banyak gelar Grand Slam masih terbuka lebar. Apalagi seperti diakuinya sendiri, secara mental kini dia jauh lebih siap dan lebih matang.

"Setiap kali Anda berada di sana, Anda akan teramat sangat menginginkannya, tapi kemudian sesuatu yang salah terjadi. Anda berpikir terlalu banyak, terlalu banyak kekhawatiran di kepala. Ini perang mental, itu jelas. Intinya, pada akhirnya ini adalah olahraga mental," sambungnya.

Dilanjutkan Djokovic, suksesnya mengandaskan Murray tak bisa dilepaskan dari proses pendewasaan mental yang sudah dia lalui. Meski menganggap Federer dan Nadal berada di atasnya, dia mengaku siap bertarung dengan dua petenis tersebut.

"Saya tak ingin berhenti di sini...Saya baru 23 tahun dan semoga masih punya kesempatan lain memenangi Grand Slam. Ini benar-benar memberi saya motivasi besar. Ini dorongan kepercayaan diri yang luar biasa," lanjut dia seperti diberitakan Reuters.

"Tetap Rafa (Nadal) dan Roger menjadi dua pemain terbaik dunia. Anda tak bisa membandingkan sukses saya dan Murray dengan keberhasilan mereka. Menyenangkan melihat ada pemain baru yang bisa bertarung memperebutkan gelar Grand Slam. Hanya itu yang bisa saya bilang," tuntas dia.

Sumber : Doni Wahyudi - detiksport
foto : Getty Images

Djokovic Bertakhta di Australia

Melbourne - Novak Djokovic tak banyak menemui kesulitan untuk menundukkan Andy Murray di babak final Australia Terbuka. Dia menang tiga set langsung untuk meraih gelar juaranya yang kedua.

Dalam pertandingan final yang berlangsung Minggu (30/1/2011) petang WIB, Djokovic memetik kemenangan 6-4, 6-2 dan 6-3. Sukses mengalahkan Murray menjadi keberhasilan kedua petenis Serbia itu jadi kampiun di Australia Terbuka setelah yang pertama di tahun 2008.

Buat Murray, kegagalan menundukkan Djokovic membuat dia masih harus bersabar memenangi kejuaraan Grand Slam. Petenis asal Skotlandia itu tercatat tiga kali masuk final dan tiga kali kalah, dengan dua di antaranya terjadi di Melbourne Park.

Di final Grand Slam pertama tanpa kehadiran Rafael Nadal atau Roger Federer dalam tiga tahun terakhir, Djokovic sepenuhnya menguasai pertandingan. Pada awal laga kedua petenis sesungguhnya masih cukup berimbang dengan terus memenangi servisnya masing-masing hingga game ke-10.

Namun sebuah double fault yang diuat Murray saat pukulannya nyangkut di net membuat dia kemudian kehilangan set pertama kurang dari satu jam.

Djokovic tampil menggila di set kedua dengan langsung memimpin 5-0, sebelum menutupnya dengan skor 6-2. Sedangkan di set penentuan kedua petenis mampu saling mematahkan servis, meski Djokovic kemudian mampu menuntaskan laga dengan 6-3 dalam total waktu dua jam dan 39 menit.

Sumber : Doni Wahyudi - detiksport
foto : Reuters

Kalah di Final, Li Na Protes Fans China

Melbourne - Li Na menyebut kalau kekalahan dia atas Kim Clijsters lebih karena perbedaan pengalaman. Namun atas hasil tersebut dia juga mengutarakan kekecewaan pada fans China yang hadir di laga final.

Sebuah sejarah baru berpeluang dituliskan Li Na saat dia menjadi petenis pertama Asia yang berhasil masuk final Grand Slam di Australia terbuka. Namun dalam partai puncak menghadapi Kim Clijsters dia terpaksa menelan pil pahit setelah kalah 6-3, 3-6 dan 3-6.

"Jika Anda belum punya pengalaman, maka saat menghadapi masalah Anda tak akan bisa keluar dengan mudah. Bukannya tak ada jalan keluar, tapi Anda tak tahu bagaimana menemukannya," sahut Li Na usai pertandingan.

Australia Terbuka adalah final pertama Li Na untuk turnamen kelas Grand Slam. Itu jelas berbeda jauh dengan Clijsters yang sudah enam kali masuk final dan menuntaskan empat di antaranya dengan menjadi juara.

Li Na memang mengalami masalah yang tak biasa dia temui dalam laga final tersebut. Sayangnya itu justru dimunculkan oleh beberapa fans asal negaranya yang menyaksikan laga tersebut di tribun penonton.

Fans asal China tersebut dianggap Li Na terlalu berisik. Petenis 28 tahun itu juga dibuat kesal oleh teriakan yang terus muncul saat dia melakukan pengembalian pukulan.

"Ada banyak orang melatih saya. Suaranya sungguh kencang dan itu tak cuma datang dari satu arah, itu datang dari semua arah. Saya pikir orang China bisa menyaksikan tenis dengan lebih sopan. Saat mereka mereka meneriakkan sesuatu saat saya melakukan pukulan, saya merasa...sangat lelah," lanjut Li Na.

Kesal dengan ulah fansnya sendiri, Li Na bahkan sempat mengajukan protes pada umpire pertandingan saat servisnya baru dipatahkan Clijters dalam posisi 3-3 di set kedua. Kondisi tersebut bisa jadi mempengaruhi performanya karena dia kemudian cuma bisa memenangi tiga game sebelum akhirnya kalah.

Ini bukan kali pertama Li Na memprotes sikap fans China. Saat menghadapi Dinara Safina di semifinal Olimpiade 2008 dia juga meminta fans untuk "tutup mulut".

Sumber : Doni Wahyudi - detiksport
foto : Getty Images

Silakan Panggil Clijsters 'Aussie Kim'

Melbourne - Meski berasal dari Belgia Kim Clijsters justru punya julukan Aussie Kim. Setelah akhirnya memenangi Australia Terbuka, nama tersebut kini sah menjadi bagian dari petenis 27 tahun itu.

Julukan Aussie Kim bermula sejak sekitar delapan tahun lalu, saat dia berpacaran dan kemudian bertunangan dengan petenis Australia Lleyton Hewitt. Sejak saat itu Clijsters selalu dapat dukungan penuh dari publik Australia, dan dapat julukan Aussie Kim, meski hubungannya dengan Hewitt bubar di tahun 2004.

Setiap berpartisipasi di Australia Terbuka, Kim menjadi petenis asing yang selalu dapat dukungan penuh dari fans tuan rumah. Termasuk di penyelenggaraan tahun 2011 ini, di mana dia mampu menuntaskannya dengan menjadi juara setelah mengalahkan Li Na dengan 3-6, 6-3 dan 6-3.

"Sekarang saya rasa kalian semua bisa memanggil saya dengan ‘Aussie Kim’ karena saya memenangi gelar ini," sahut dia sambil tersenyum lebar dan terlihat menahan tangis usai laga final seperti dikutip dari Reuters.

"Saya masih sedikit gemetar. Li Na jelas merupakan kompetitor yang tangguh. Dia benar-benar menunjukkannya pada saya. Saya terpaksa mundur dan menarik diri - saya tak menyukai itu".

"Di set pertama, saya pikir ‘Wow! Ini terlalu cepat buat saya!’ Itu sulit. Saya merasa di set kedua dia mulai merasa gugup. Saya gembira bisa menuntaskannya sampai akhir," tuntas Clijsters yang berkat kemenangannya tersebut kini punya empat gelar Grand Slam, selain tiga trofi Amerika Serikat Terbuka di tahun 2005, 2009 dan 2010

Sumber : Doni Wahyudi - detiksport
foto : Reuters

Clijsters Juara Usai Tundukkan Li Na

Melbourne - Kim Clijsters memupus ambisi Li Na untuk menjadi petenis China pertama yang memenangi Grand Slam. Di final Australia Terbuka, Clijsters memetik kemenangan dalam pertarungan tiga set.

Dalam laga final yang berakhir Sabtu (29/1/2011) sore WIB, Clijsters harus menderita kekalahan di set pertama. Namun petenis asal Belgia itu kemudian mampu bangkit dan merebut dua set berikutnya untuk mengamankan kemenangan dengan 3-6, 6-3 dan 6-3.

Sukses menjuarai Australia Terbuka adalah yang pertama buat Clijsters. Total dia kini sudah mengumpulkan empat gelar Grand Slam, dengan tiga lainnya didapat di Amerika Serikat Terbuka tahun 2005, 2009 dan 2010.

Sementara buat Li Na, hasil ini memupus ambisinya menjadi petenis pertama asal China yang memenangi gelar Grand Slam. Meski begitu, keberhasilan lolos ke final sudah menjadi torehan prestasi tersendiri buat petenis yang ditempatkan sebagai unggulan sembilan itu.
 
Sumber : Doni Wahyudi - detiksport
foto : Getty Images

Simon Kandas, Wakil Indonesia Habis

Seoul - Habis sudah wakil-wakil Indonesia di Korea Premier Super Series. Simon Santoso yang menjadi satu-satunya pebulutangkis tanah air tersisa, tunduk saat menghadapi Lin Dan dalam pertarungan tiga set.

Dalam laga babak semifinal yang berakhir Sabtu (29/12011) siang WIB, Simon harus mengakui Lin Dan setelah bertarung selama satu jam dan lima belas menit. Meski mampu memberikan perlawanan sengit di dua set awal, Simon takluk 21-23, 22-20 dan 15-21.

Kekalahan tersebut memupus harapan Indonesia untuk bisa masuk final dan meraih gelar. Simon adalah satu-satunya wakil Merah Putih di semifinal setelah kemarin Taufik Hidayat kalah, juga atas Lin Dan.

Menghadapi pebulutangkis yang ditempat di unggulan enam, Simon sesungguhnya mampu memberi perlawanan. Di set pertama misalnya, dia bisa unggul lebih dulu 5-2 sebelum kemudian terlibat saling susul poin. Di set awal ini Lin Dan menang 23-21.

Set kedua kembali berjalan sengit dengan saling salip angka masih terjadi. Kali ini Lin Dan yang sempat unggul 12-7, untuk kemudian keduanya saling susul dan berakhir dengan keunggulan Simon 22-20.

Di set penentuan Simon tak mampu memberikan perlawanan seperti di dua set awal. Tertinggal sejak poin pertama dia tak pernah bisa menyusul perolehan angka lawannya, untuk kemudian menyerah 15-21.

Lin Dan akan menghadapi pebulutangkis andalan Malaysia, Lee Chong Wei dalam laga final yang akan dilangsungkan Minggu (30/1/2011) besok. Sementara China dipastikan akan membawa pulang tiga gelar dari kejuaraan ini menyusul terciptanya final sesama pebulutangkis mereka di nomor ganda putri, tunggl putri dan ganda campuran.
 
Sumber : Doni Wahyudi - detiksport
foto : getty image

Masuk Final, Murray Mau Tuntaskan Penantian 75 Tahun

Melbourne - Andy Murray melangkah ke final Australia Terbuka usai menundukkan David Ferrer. Petenis asal Skotlandia itu kini punya kesempatan menyudahi puasa gelar Grand Slam petenis Inggris Raya yang sudah bertahan 75 tahun.

Dalam pertandingan semifinal yang dilangsungkan Jumat (28/1/2011) kemarin, Murray harus bertarung empat set sebelum menundukkan Ferrer. Di akhir laga, petenis 23 tahun itu menang dengan skor 4-6, 7-6, 6-1 dan 7-6.

Ini merupakan final Grand Slam ketiga Murray sepanjang karirnya setelah yang pertama di Amerikas Serikat Terbuka 2008 dan Australia Terbuka tahun lalu. Sebagai catatan, di dua laga tersebut Murray selalu kalah atas Roger Federer.

FedEx dipastikan tak akan menghalangi langkah Murray kali ini karena dia sudah tersingkir di babak semifinal. Yang menunggu untuk ditaklukkan adalah mantan juara tahun 2008 Novak Djokovic.

"Pertama-tama, ini lebih sebagai mimpi pribadi dan sebagai target pribadi saya," sahut Murray usai pertandingan.

Masuk ke final, Murray berkesempatan menyudahi puasa gelar Grand Slam yang harus dialami petenis-petenis Inggris Raya sejak 75 tahun lalu. Orang Inggris terakhir yang bisa merasakan gelar juara nomor tunggal putra adalah Fred Perry di tahun 1936.

"Sisi historisnya, (sesungguhnya) itu bukan sesuatu yang banyak saya pikirkan, tapi jelas secara pribadi ingin saya coba dan menangkan. Tapi saya juga tak mau terlalu terlalu berambisi yang justru bisa membuat penampilan saya buruk," lanjut Murray di Yahoosports.

Dengan usia yang sama-sama 23 tahun, dan hari kelahiran yang hanya berbeda hitunggan minggu, Murray dan Djokovic sudah saling kenal sejak masih belia. Namun baru sekali ini keduanya berhadapan di final seri Grand Slam.

Keduanya saat ini tercatat sudah lima kali saling berhadapan, dengan si petenis Serbia unggul tipis 3-2.

Sumber : Doni Wahyudi - detiksport
foto : getty image